Breaking News

Pelemahan Rupiah Yang Terjadi Saat Ini Masih Wajar


Pelemahan Rupiah Yang Terjadi Saat Ini Masih Wajar




Pergerakan mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, cenderung tertekan karena peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Hal itu juga membuat pasar meyakini imbal hasil (yield) atas surat utang akan meningkat dan berpotensi mengembalikan dana ke AS sehingga menekan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Dalam menanggapi fenomena fluktuasi rupiah itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan hal tersebut masih dalam taraf wajar. "Enggak (mengkhawatirkan). Kalau situasi normal-normal saja, kurs harusnya nggak ada masalah. Ekonomi kita berjalan baik. Pertumbuhannya, meski tidak tinggi-tinggi benar, di atas 5%," ujarnya saat ditemui di kantornya.

Pergerakan inflasi pun dikatakannya cukup terkendali meski terdapat gejolak harga pangan. Inflasi sepanjang tahun kalender 2018 (Januari-Februari) tercatat 0,79%. Dari sisi fundamen ekonomi domestik, Darmin juga menilai tidak memiliki persoalan.

Menurut dia, pemicu utama pelemahan rupiah tidak lain karena faktor ekonomi global, terutama dari kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan bakal menaikkan suku bunga acuan (Fed fund rate/FFR) empat kali pada tahun ini. Hal itu semakin diperkuat dengan pidato Gubernur The Fed Jerome Powell yang cenderung hawkish (optimistis), sekaligus memberi sinyal kebutuhan penyesuaian suku bunga relatif besar.



No comments