Breaking News

Waspadai Prediksi Asal - Asalan Dan Provokatif Prof Karim Jogja

Waspadai Prediksi Asal - Asalan Dan Provokatif Prof Karim Jogja
Informasi yang bertendensi adu domba dan ujaran kebencian makin marak di media sosial. Terlebih pesan yang mengangkat sentimen SARA.
Salah satunya adalah artikel yang ditulis oleh orang yang mengaku Prof. Karim Jogja ini. Dalam artikelnya yang berjudul "Islam Akan Pamit dari Bumi Indonesia, Prediksi Prof. Karim Jogja" itu, penulis menyampaikan bahwa umat Islam di Indonesia saat ini sedang kritis.
Pasalnya, prosentase jumlah muslim di Indonesia mengalami penurunan, dari 95 persen pada 1980-an menjadi sekarang tinggal 87 persen. Menurut Prof. Karim itu karena adanya upaya kristenisasi dan westernisasi yang masif dari umat non-muslim.
Pesan yang ditulis oleh Prof. Karim tersebut sebenarnya bertendensi menuduh bahwa umat Islam sedang diserang oleh kaum di luarnya. Perasaan inferior dan sedang menjadi korban itu berusaha ditanamkan di benak umat Islam.
Padahal, hal tersebut cukup berbahaya karena bisa menjadi bahan bakar provokasi dan kebencian pada saudara kita yang berbeda agama. Hal itu bisa berpotensi menimbulkan konflik antara masyarakat yang bisa memecah belah bangsa.
Di sisi lain, argumen yang dituliskan oleh Prof. Karim di atas tidak memiliki dasar yang kuat. Apalagi bukti yang valid. Itu terlihat hanya pesan yang mengobarkan kebencian belaka.
Indonesia pada dasarnya bukanlah negara agama. Republik ini tidak hanya milik salah satu agama saja, melainkan milik semua bangsa Indonesia yang berbeda-beda identitasnya.
Untuk itu, tak ada istilah mayoritas-minoritas di negeri ini. Minoritas bukanlah musuh dan ancaman bagi mayoritas, serta mayoritas bukanlah penguasa mutlak. Semuanya adalah warga negara yang memiliki hak yang sama.
Maraknya isu primordial seperti di atas di dunia maya patut diwaspadai agar kesatuan dan persatuan kita sebagai bangsa dan negara terjaga.
Di samping itu, hingga saat ini pemerintah masih menjamin hak untuk menganut agama dan kepercayaan, juga memberi kebebasan untuk beribadah pada warga negara sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. Hal tersebut merupakan amanat konstitusi UUD 1945 dan menjadi semangat ideologi Pancasila.
Dengan demikian, kita tak perlu khawatir lagi dengan usaha rongrongan atas agama atau kepercayaan kita. Juga tak perlu lagi kita sebarkan tuduhan tak mendasar seperti di atas.
Kita semua adalah saudara. Kita berbeda-beda, namun bisa bekerjasama. Tak perlu ada lagi permusuhan atas dasar identitas di antara warga negara. Karena kita, Indonesia.
Sebagai penutup, mari kita renungkan wasiat Imam Ali ini,
"Jika tak bisa bersaudara sebagai satu agama, bersaudaralah dalam kemanusiaan".

No comments